Skip to content

Senandung sang Ibu di tengah malam

March 25, 2009

Andaikan kita bisa

Menjadikan tiap hati menjadi bersinar

Mengasah tiap rasa agar lebih peka

Mungkin tak akan pernah ada tangis

Kesedihan, ratapan kesengsaraan

Di sebuah bis ekonomi antar kota, antar propinsi. Dalam kedinginan malam. Samar-samar terdengar nyanyian seorang ibu. Ah, bukan bernyanyi tapi berteriak menanyakan sebuah kepedulian, sambil kecil bertepuk tangan menarik perhatian. Wajahnya kusam dan tubuhnya kurus kering. Seorang anak kecil di gendongannya ikut bertepuk sambil lirih bernyanyi. Sungguh pemandangan pedih menyayat, di kerumunan orang yang tidur laksana mayat. Di tengah malam yang dingin, sesekali angin cukup kencang, semestinya engkau tertidur hangat di kamarmu. Semestinya engkau bermimpi tentang asyiknya permainan esok tadi, bukan bernyanyi untuk bayaran dari orang-orang yang kadang tak mau peduli. Meski hanya keluar sedikit dari kantongnya yang paling biasanya hanya untuk satu batang ‘racun’. Ah,..sudah dibilang..bukan bernyanyi…dengarlah dengan hatimu, bukankah ia merintih. Mungkin dalam hatinya terbayang ketakutan, akan makan apa aku esok nanti? Dengarlah dalam batin si anak berbisik..apa aku besok bisa bersekolah?

Tepuk-tepuk kecil, lirih terdengar sebaris lagu,”bukan lautan tapi kolam susu, tiada badai tiada ombak….”orang bilang Indonesia tanah syurga..tongkat dan batu jadi tanaman…”. Ah tak peduli liriknya benar atau tidak, tapi bagiku itu seindah nyanyian yang mendamaikan, cukup menyayat.. Tak terasa butiran kecil menetes, sambil lirih terucap syukur dan do’a. Lagi-lagi semestinya kita tersentuh..dengan kerendahan ibu itu berucap, “kasihani kami, paling tidak besok kami bisa makan”. Kurus, sambil terus menggendong anaknya penuh kasih sayang, sesekali mengusap kepala anaknya.

Senyum mengembang dari wajah sang Ibu tiap kali ada orang yang tersentuh untuk berbagi. Bergegas ia membangunkan anaknya yang letih ketiduran. “Ayo nak, bilang terima kasih”, sambil bernyanyi bergembira untuk sebuah ucapan terima kasih. Ah,..sungguh kemampuan mendidik yang luar biasa dari seorang ibu,meski bukan wanita dengan gelar doktor, yang terbiasa bekerja di kantor, sekolah, dan gedung-gedung universitas. Hanya, ibu yang melompat dari bis ke bis. Terima kasih, engkau mengajari banyak hal, bersyukur, kasih sayang ibu, perjuangan, hari esok, ah…inilah mengapa aku selalu lebih memilih naik bis dari pada kereta eksekutif. Ya..terima kasih…”orang bilang inilah tanah syurga…”. Inilah wajah lain dari belahan negeri ini. Mungkin, dari belahan negeri yang hanya pernah kita dengar dan kita bayangkan. Inilah sepenggal waktu-waktu yang berlalu di negeri ini, yang tidak semua kita setiap saat menyaksikan.

Mungkin, inilah sebuah presentasi dari ALLAH yang mengajari kita untuk bersyukur, mengajari kita untuk senantiasa peduli. Bahwa, ada yang jauh lebih berarti dari kehidupan dari pada sekedar mengurus diri. Ya..senyum mereka yang mengembang.

Ah…jadi kangen sama Ibu di kampung. Sesampai di rumah, pasti kupeluk erat. Sambil menatap wajah tegas tapi menyejukkan, yang biasanya heran bertanya mengapa anaknya dari dulu lebih suka berdesak-desakan di bis selama 8 sampai 10 jam dari pada duduk dan tidur nyenyak di kereta yang paling cepet 5 jam sudah sampai rumah. Ah…mudah-mudahan hidup nanti lebih nyaman Bu…***

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: