Skip to content

Ath Thariq, Ats Tsaqib, Ar Raj’i

April 14, 2009

Bismillah…

Di manapun,..tatkala kita memandang langit malam hari. Dengan tubuh yang mungkin terlelahkan. Terkadang bersama hembusan angin dingin, bahkan hujan dan badai yang menggetarkan. Tak jarang pula menyaksikan bersama indahnya bintang yang cahayanya menembus. Semestinya bukan cuma besitan memori atau kerinduan yang memaksa masuk untuk terus memadati ruang pikiran-pikiran kita. Astaghfirullah…betapa diri ini memang sosok yang sangat lemah.

Di manapun,..tatkala kita memandang langit malam hari, bersama bintang yang cahayanya menembus. Alangkah baik ketika kita teringat akan ath-thariq, teringat akan ats-tsaqib. Bukankah Allah telah menyapa kita dengan firman-Nya yang begitu indah, “Demi langit dan yang datang di malam hari. Tahukah kalian apakah yang datang di malam hari itu? (Yaitu) bintang yang cahayanya menembus. Tidak ada suatu jiwa pun (diri), melainkan ada penjaganya.” (Ath-Thariq : 1-4).

Sungguh suatu sapaan yang sangat indah, sapaan yang tegas. Semestinya mengingatkan diri ini untuk tidak terus terbuai dalam indahnya kegemerlapan. Terbuai dalam alunan perasaan-perasaan rindu yang semestinya masih harus terjaga. Bahwa ada ketakutan yang seharusnya memang ada dalam setiap jiwa-jiwa kita. Sungguh suatu sapaan yang tegas, bisa saja menakutkan. Bahwa dalam setiap jiwa kita ada penjaga, tidak pernah sekejap pun berada dalam kesunyian sekalipun sendirian. Ada pengawas sekalipun mata ini tak mampu melihatnya, karena memang tersembunyi dari semua mata, yang mampu merobek setiap tabir dan menembus semua dinding. Sebagaimana bintang yang cahayanya menembus dinding kegelapan malam yang menutupi.

Bukankah…bukankah diri ini hanya mahluk yang diciptakan, yang semestinya kita memperhatikan. “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan? Ia diciptakan dari air yang terpancar.” (Ath-Thariq : 5-6). Semestinya diri ini merendah…bukankah ada Allah yang Maha Mengatur, Maha Berkuasa atas segalanya.

Sepantasnyalah, diri ini menumpuk rahasia-rahasia indah. Ia akan menjadi bekal, menjadi penolong tatkala tak seorang pun menemani, tatkala tak seorang pun mampu menolong. Bukankah kesendirian kita di malam hari, cukup menjadi perenungan, bahwa kelak kita akan melewati masa-masa yang segalanya penuh dengan makna kesendirian. Semestinya kita menumpuk sebuah keindahan rahasia yang mampu membawa dari kesendirian pada keindahan kebersamaan, dan kegembiraan dalam keimanan. Wa yanqalibu ilaa ahlihi masruuraa. Sudah sebegitu indahkah rahasia-rahasia kita?. Bukankah kita akan kembali, tatkala tiada suatu kekuatan pun, tatkala tiada seorang penolong pun. “Sesungguhnya Allah benar-benar berkuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). Pada hari ditampakkan segala rahasia. Maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong.” (Ath-Thariq : 8-10).

Di manapun….tatkala kita memandang hujan, yang terkadang kita mesti berteduh untuk sejenak beristirahat tatkala kemungkinan sakit lebih dekat dari pada tetap sehat. Atau terkadang kita mesti harus terus berjalan dengan payung dan mantel-mantel kekuatan azam yang bisa mengalahkan setiap kemungkinan sakit yang akan menerpa, tentunya dengan perhitungan yang cermat. Mungkin, ada kenangan yang teringat, tapi diri ini akan lebih senang ketika teringat akan betapa Maha Besarnya Allah, yang telah mengatur hujan, mengatur tumbuh-tumbuhan, menurunkan pembeda yang hak dan yang batil. Yang mudah-mudahan kita bisa terus menuju kepada yang hak dalam sendiri atau kebersamaan.”Demi langit yang mengandung air hujan. Dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan, sesungguhnya al Qur’an itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang batil; dan sekali-kali bukanlah ia senda gurau.” (Ath-Thariq : 11-14).

Di manapun kita berada, di manapun kita memandang langit dan bintang. Di manapun kita melangkah dalam hujan. Sudah semestinya kita menumpuk rahasia-rahasia indah. Ada Allah Yang Maha Mengatur segala.Terlalu sayang ketika hening malam berlalu tanpa sebuah perenungan. Ada bahasa indah dari seorang Sayyid Quthb, “ Bangunlah. Sadarlah. Lihatlah. Tengoklah. Berpikirlah. Renungkanlah. Sesungguhnya di sana ada Tuhan. Sesungguhnya di sana ada pengaturan. Sesungguhnya di sana ada taqdir. Sesungguhnya di sana ada cobaan. Sesungguhnya di sana ada tanggung jawab. Sesungguhnya di sana ada hisab dan balasan. Sesungguhnya di sana ada siksaan yang pedih dan kenikmatan yang besar.”

(bersama pergantian hari di keheningan malam, ketika mata tak juga terpejam..akhfiya)

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: