Skip to content

Tauhidullah

April 20, 2009

Tauhidullah berarti mengesakan Allah SWT, dari segala apapun yang ada di dunia ini. Dan secara garis besar, tauhid dibagi menjadi tiga bagian; pertama Tauhid Rububiyah. Kedua; Tauhid Mulkiyah, dan Ketiga; Tauhid Uluhiyah.

1. Tauhid Rububiyah.

Dari segi bahasa, Rububiyah berasal dari kata rabba yarubbu (ربّ – يربّ) yang memiliki beberapa arti, yaitu : ( المربي /al-Murabbi) Pemelihara, ( النصير/al-Nashir) Penolong, ( الملك /al-Malik) Pemilik, ( المصلح / al-Muslih) Yang Memperbaiki, ( السيد /al-Sayid) Tuan dan ( الولي / al-Wali) Wali.

Sifat rububiyah bagi Allah merupakan sifat Allah sebagai Maha Pencipta, Maha Pemilik, dan Maha Pengatur seluruh alam. Dalam tauhid ini, kita diminta untuk mengesakan Allah sebagai Pencipta yang telan mencipta segala sesuatu dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Hanya Allah-lah yang memberikan rizki dan hanya Allah lah sebagai Penguasa yang menguasai seluruh alam ini.

Menurut fungsinya, tauhid rububiyah pada Dzat Allah terbagi menjadi tiga:

a) Allah sebagai Pencipta (خالقا)

Allah SWT berfirman (QS. 2 : 21-22):

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ * الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلاَ تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ*

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”

b) Allah sebagai Pemberi rizki (رازقا)

Allah berfirman (QS. 51 : 57-58):

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ* إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ*

“Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.”

c) Allah sebagai Pemilik (مالكا)

Allah berfirman (QS. 284) :

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ

يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Tauhid rububiyah ini merupakan landasan bagi seluruh kaum muslimin untuk bersyukur kepada Allah SWT. Karena pada hakekatnya dalam menempuh kehidupan dunia, mereka senantiasa bertemu dengan ciptaan Allah, dengan pemberian rizki dari Allah dan juga menggunakan segala ‘fasilitas’ miliki Allah SWT. Mereka tidak mungkin lari dari kenyataan ini.

2. Tauhid Mulkiyah.

Dari segi bahasa, mulkiyah berasal dari kata malika yamliku (ملك – يملك), yang artinya memiliki dan berkuasa penuh atas yang dimiliki. Sedangkan dari segi istilahnya adalah mengesakan Allah SWT sebagai satu-satunya penguasa, pemimpin, satu-satunya pembuat hukum (aturan) dan pemerintah. Tauhid mulkiyah pada Allah meliputi

a) Allah sebagai pemimpin (وليا)

Allah berfirman (QS. 7 : 196):

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

“Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.”

Dalam ayat lain Allah menggambarkan (QS. 18 : 50)

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلآئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاّ إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ

وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلاً

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim.”

b) Allah sebagai pembuat hukum/ undang-undang (حاكما)

Allah berfirman (QS. 6 : 57):

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. “

c) Allah sebagai pemerintah/ yang berhak memerintah (آمرا)

Allah berfirman (QS. 7 : 54)

بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”

3. Tauhid Uluhiyah.

Uluhiyah berasal dari kata Aliha ya’lihu, (أله – يأله) artinya menyembah. Sedangkan dari segi istilah adalah mengesakan Allah SWT dalam penyembahan/ peribadahan. Tauhid uluhiyah pada Allah ini mencakup tiga hal:

a) Allah sebagai tujuan (غاية)

Allah berfirman (QS. 6 : 162):

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

b) Allah sebagai Dzat yang kita mengabdikan diri pada-Nya (معبودا)

Allah berfirman (QS. 109: 1-6)

قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ* لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ* وَلاَ أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ * وَلاَ أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ* وَلاَ أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ* لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ*

“Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”.

Dengan mentauhidkan Allah melalui tiga bentuknya ini, insya Allah akan membawa kita untuk menjadikan Allah sebagai:

1. (ربا مقصودا)

Rab yang menjadi tujuan segala amalan dan aktivitas kita, baik yang bersifat ibadah ataupun muamalah, bersifat individu maupun secara bersama-sama. Karena tiada tujuan lain dalam hidup kita selain hanya Allah dan Allah.

2. (ملكا مطاعا)

Penguasa yang senantiasa kita taati segala undang-undang dan aturan hukum yang Allah berikan kepada kita, baik yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun yang terdapat dalam sunnah Rasulullah SAW.

3. (إلها معبودا)

Tuhan yang senantiasa kita sembah, di mana tiada sesembahan lain dalam hati kita, dalam fikiran kita dan dalam jasad kita selain hanya untuk pengabdian kepada Allah SWT.

Penutup

Dengan mengenal Allah SWT, kita akan lebih dapat untuk mendekatkan diri kita kepada-Nya secara baik dan benar. Karena pemahaman yang baik akan mengantarkan pada amalan yang baik. Amalan yang baik akan mengarah pada hasil yang baik. Dan hasil yang baik, insya Allah akan mendapatkan keridhaan Allah SWT. Semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang benar-benar mentauhidkannya dalam segenap aspek kehidupan kita. Dan kita berlindung kepada-Nya dari kemusyrikan-kemusyrikan, baik yang kita sadari ataupun yang tidak kita sadari…

اللهم إنا نعوذ بك من أن نشرك بك شيئا نعلمه ونستغفرك لما لا نعلمه

Wallahu A’lam Bis Shawab.

By. Rikza Maulan, Lc. M.Ag.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: