Skip to content

Layang-layang dan Pesawat

April 23, 2009

Sebagaimana halnya anak kampung pada masanya, aku pun suka bermain layang-layang bersama teman-temanku sewaktu kecil. Berlari-lari di sawah yang hijau luas membentang..ah…begitu indahnya masa itu. Sesekali layang-layangku tertabrak oleh kawanan burung bangau sawah yang berterbangan. Aku memang tidak begitu pandai menerbangkan layang-layang, maklum frekuensi bermainku tidaklah sebanyak temen-temen seusiaku pada waktu itu. Tapi, ada satu pemahaman yang menarik ‘setinggi apapun layang-layang terbang, ia tetap perlu dikendalikan oleh kekuatan lain yang ada di bawah’ ya pengendali layang-layang itu.

Hemm..satu lagi kebiasaan yang boleh dikatakan kampungan,..ya..memang itulah kebiasaan kami anak gunung dan anak kampung. Jika ada pesawat yang kebetulan terbang walaupun sangat tinggi (maklum daerah kami jauh dari bandara), spontan kami akan berlarian mengejarnya, sambil berteriak-teriak “pesawat-pesawat minta duitnya”. Tentunya dengan bahasa daerah kami lah, rasanya tidak perlu disebutkan. Sampai suatu saat aku berpikir, ‘sekencang apapun kita berlari mengejar, itu hanyalah sia-sia belaka, pesawat itu tidak akan memberikan apa yang kita inginkan’. Tapi, memang berbeda dengan layang-layang, ‘pesawat mampu terbang tinggi, tapi ia tidak dikendalikan oleh kekuatan di bawah, ia mengendalikan dirinya dari atas oleh seorang pilot tentunya’.

Ada hal yang menarik buatku sobat, pertama;’sekencang apapun kita berlari, kita tak akan sanggup menjangkau pesawat, apalagi mengharap keuntungan darinya’. Kata si Mbah, untuk menggapai cita-cita yang tinggi tidak hanya diperlukan kerja keras, tetapi diperlukan juga langkah-langkah cerdas, ketekunan, kedisiplinan, semangat, kemampuan untuk belajar, bekerja sama, bahkan seni bersaing layaknya memperebutkan layang-layang. Maka, pesan bijak si Mbah, jangan engkau seperti mereka bila ingin menggapai pesawat, berlari-lari atau hal sia-sia apapun, tapi belajarlah, siapkan harimu esok, engkau akan terbang tinggi bersama pesawatmu.

Kedua, ‘setinggi apapun layang-layang ia tetap dikendalikan dari bawah, lain halnya pesawat meski tinggi ia mampu mengendalikan dirinya, karena semestinya begitu’. Lagi-lagi pesan si Mbah, semestinya orang-orang ‘tinggi’, orang-orang yang berjiwa mulia itu tidaklah dikendalikan oleh kepentingan-kepentingan yang sifatnya rendah, ia mampu terbang tinggi menjulang dengan pengendalian diri dan kebijaksanaan-kebijaksanaan untuk terus membawa manfaat bagi setiap orang. Ya, layaknya pesawat membawa penumpangnya sampai ke suatu tujuan. Maka, berlatihlah menjadi orang mulia, tidak harus tinggi, atau jika engkau mesti mendudukinya, maka berlatihlah mengendalikan diri, belajarlah hikmah kebijaksanaan, hingga kiranya nanti orang menyoroti, memperhatikanmu, itu karena kebesaran jiwa dan kebijaksanaanmu…bisakah engkau seperti itu nak?

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: