Skip to content

Ayat-ayat Kerinduan

May 6, 2009

Adalah manusiawi bagi seorang manusia untuk merasakan suatu kerinduan. Ia bisa datang di kala sepi sendiri, atau bahkan di kala keramaian. Ketika ia memaksa hadir, pasti ada rasa gelisah, bahkan rasa sakit yang begitu mendalam. Ketika membaca tulisan ini, coba lihat dengan pelan dan renungkan. Coba pejamkan mata dan rasakan. Ya…bukankah ada rasa sakit yang mesti kita tahan. Tak jarang ada butiran-butiran kecil yang terlahir bukan?

Dalam keheningan…bersama kerinduan,….diriku…mari coba kita merenung. Kerinduan adalah manusiawi. Menangis adalah ekspresi wajar dari sebuah kerinduan, dan rasa sakit memang bukan buah yang manis dari sebuah rasa kerinduan. Tapi diriku, bukankah rasa sakit ini, atau tangis ini juga sebuah pilihan. Pilihan tentang waktu, pilihan tentang sebuah alam. Bukankah rasa sakit, atau tangis ketika di alam sekarang ini ialah sangat dan sangat singkat dibandingkan jikalau kita memilih untuk menangis dan menahan rasa sakit yang tak mungkin kita sanggup menahannya..ya..di alam akhirat, pada sebuah tempat yang akrab disebut ‘neraka’..na’udzubillah tsuma na’udzubillah. Diriku…bisa jadi tangis dan rasa sakit di tempat itu karena kita tak sanggup menahan tangis dan sakit ketika di alam dunia ini..termasuk tangis dan sakit refleksi dari sebuah kerinduan. Jadi,..di mana aku akan memilih untuk menangis dan menahan sakit. Kalau engkau menjawab lebih baik kita menangis di dunia..sepertinya belumlah tepat. Engkau mesti tegar, karena kerinduan hanya pantas bersemayam pada diri orang-orang yang tegar. Hingga kerinduan itu kelak mengarah pada suatu tujuan yang tepat. Tujuan yang diperbolehkan. Semuanya akan tiba masanya.

Bersama kerinduan ini…dalam keheningan mari kita merenung. Bacalah dengan pelan dan rasakan. Ada Sang Pencipta yang juga rindu. Sekali lagi, kerinduan ini pun sebuah pilihan. Pilihan tentang bagaimana kita memenuhi kerinduanNya. Kerinduan yang erat dengan “menunggu”. Dengan sangat mesra lewat firmanNya yang tersebar dan terulang dalam beberapa tempat. Ya..kata “menunggu” terulang beberapa kali. Cobalah buka dan lihat betapa kata itu terulang-ulang, mengajarkan kita bagaimana cara kita memenuhi kerinduan-Nya. “Dan tunggulah (akibat perbuatanmu); sesungguhnya Kami pun menunggu (pula).” (Q.S. Huud, 11 : 122);

“ Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: “Tunggulah olehmu sesungguhnya Kamipun menunggu (pula).” (Q.S. Al An’aam, 6 : 158).

Bersama kerinduan..semestinya bergetarlah hati ini..ada ketakutan luar biasa, bagaimana tidak di sela kerinduan sebenarnya diri ini menunggu dan ditunggu. Menunggu datangnya sesuatu yang akan memisahkan antara kita dan dunia ini. Lebih menakutkan lagi,..jangan-jangan diri ini pun sudah ditunggu. Ditunggu pembalasan yang menyakitkan, siksa dan azab. Astaghfirullah ya Rabbi…sungguh diri ini tidak akan pernah sanggup. Maka bimbinglah diri ini mengarahkan kerinduan kepada-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi Petunjuk.

Alangkah indah ketika engkau bisa memenuhi kerinduan-Nya dengan cara yang indah. Menunggu dan ditunggu bukan karena azab, tetapi karena syurga yang merindukan. Segala puji hanya bagi Allah. “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga” (Q.S. Ar Rahmaan, 55 : 46). “Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.” (Q.S. Az Zumar, 39 : 73).

Betapa indah ketika menjadi sosok yang dirindukan syurga.

Bersama keheningan…bersama tiap butiran sakit kerinduan..diriku…cobalah berfikir mengalihkan butiran sakit kerinduan menjadi butiran ketakutan. Ketakutan akan saat-saat menghadap Tuhan, ketakutan akan segala siksa yang akan ditimpakan. Bukankah kita hanya singgah…dan semuanya sudah ditetapkan. Dan kerinduan hanya pantas bersemayam pada orang-orang yang tegar..kerinduan akan syurga, kerinduan akan suatu perjumpaan yang indah. Mudah-mudahan bisa menjadi pengingat dan penguat tekad. Jika bukan…”dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (Q.S. An Naazi’aat, 79 : 41). Semoga kerinduan itu indah…dan berlabuh pada tempat yang indah..amin. Sekali lagi kerinduan hanya pantas singgah di jiwa-jiwa yang tegar hingga kerinduan itu menjadi indah sampai nyawa terpisah dari raga, jika bukan pada sebuah jiwa yang tegar, maka ia bukanlah kerinduan tetapi kecengengan…

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: